Fuel Price Rise and Indonesia to quit OPEC

Still feeling the the hype of national fuel price awakening? Well, just got a shocking news from Majari Magazine Oil and Gas Info RSS aggregator:

Quoted from AME Info, the ultimate Middle East business resource:

“Indonesia, the only OPEC member in South East Asia will leave the organisation today. The announcement comes as the country’s annual output stands at 49% of its peak and industrial disputes have slowed new developments. The country now imports close to 30% of its domestic oil needs.”

You may read the article here (if you don’t believe me) and you should also read the BBC UK’s version.


According to OPEC Official Website, The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) is a permanent, intergovernmental Organization, created at the Baghdad Conference on September 10–14, by Iran, Iraq, Kuwait, Saudi Arabia and Venezuela. The five Founding Members were later joined by nine other Members: Qatar ; Indonesia ; Socialist Peoples Libyan Arab Jamahiriya ; United Arab Emirates ; Algeria ; Nigeria ; Ecuador – suspended its membership from December-October; Angola and Gabon.

The BBC’s Lucy Williamson in Jakarta says the decision is not unexpected, since Indonesia’s production - largely concentrated in northern Sumatra - has stagnated and it has precious few sources of proven new reserves. But she adds that ministers are leaving the door open for it to return, should any future discoveries of oil transform the state of its industry.

Little influence?

Quoted from BBC UK:

Indonesia’s exit will not affect the amount of oil it produces or imports.

“I don’t see any substantive loss, other than on the prestige,” said Victor Shum, from energy analysts Purvin & Gertz.
“They really have not had much influence within OPEC.”

Suddenly a song from Ello, Pergi Untuk Kembali, popped up in my mind:
“Aku (Indonesia) akan pergi meninggalkan dirimu (OPEC), menyusuri liku hidupku,
janganlah kau bimbang, dan janganlah kau ragu, berikanlah senyuman padaku..
Selamat tinggal kasih, sampai kita juga lagi, aku pergi takkan lama..
hanya sekejap saja, ku akan kembali lagi, asalkan engkau tetap menanti..”

A few months ago, I have a question about this in my mind; putting it into discussion with some friends at my campus.
“How can Indonesia still be a member of OPEC considering the conditions we are facing now?”
Well, I guess I’ve just have my question answered.

Come on, Indonesia.. Promise us you’ll be back!

:mrgreen: :mrgreen:

Image was taken from here.

  • Oh gitu. Makasih link ke artikelnya ya. Mmm… Beberapa waktu lalu sempat ngobrol ama teman tekkim ITB yg disini *gak usah disebut mereknya ya* :wink: berawal dari pertanyaan,

    kalo ada tawaran kerja dari Exxon di Cepu, lo terima gak? itu kan perusahaan asing

    berujung pada berbagai macam pikiran tentang nasionalisme, idealisme, devisa, pesimisme, apatisme, dan kawan2nya. dan akhirnya saya berpikir kembali,

    bukan bermaksud pesimis ataupun mengabaikan rasa nasionalisme, tapi kalau kerja di Pertamina yang notabene penghasilannya 90% buat negara, apakah itu akan benar2 digunakan oleh yang berwajib untuk kesejahteraan rakyat banyak?

    Ah sudahlah.

  • oh ya, di artikel itu juga dijelaskan bahwa BP Migas cenderung memberikan hak konsesi kepada perusahaan asing ketimbang kepada Pertamina.. hehehe..

    BUMN yang dimaksud tuh yang mana, christin? hehe.. Pertamina? apa BP Migas nya?

  • Christin - iya gabung aja ke OPIC.. petroleum importing countries.. hehehe..

    hmm mungkin kita gak investasi buka kilang baru karena bikin kilang tuh mahal kali ya.. hehe..

    Dan ini ada sedikit opini dari Sesep Sianturi - kontributor Majari:

    “Patut teman-teman ketahui bahwa di negara kita Indonesia yang kaya akan minyak ini, Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing lainnya. Walaupun hanya memiliki 8 persen pasar, Pertamina dapat menghasilkan keuntungan Rp35 triliun di tahun. Coba bayangkan apabila 100 persen ladang minyak yang ada di Indonesia dipegang oleh Pertamina.

    Di samping itu, 90% keuntungan Pertamina wajib diberikan kepada Pemerintah dan hanya 10% sisanya yang dapat digunakan Pertamina. Bagaimana dengan Petronas? Keadaan Petronas berkebalikan dengan Pertamina karena hanya 10% keuntungan Petronas yang diberikan untuk Pemerintah Malaysia. Itulah penyebab mengapa Petronas dapat melakukan ekspansi besar-besaran. Mengapa Pertamina sulit melakukan ekspansi? Keuntungan rata-rata tahunan Pertamina ialah Rp27 triliun dan hanya Rp2.7 triliun yang tersisa di Pertamina padahal untuk membangun sebuah kilang baru dibutuhkan dana sekitar Rp 13 triliun.”

    You can read the whole article here:
    http://www.majarikanayakan.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/

    dan soal komentar cerdas, kayanya ga ada komentar cerdas deh.. itu quote dari BBC semua kok.. komentar gua cuman lagu Ello itu aja.. maklum saya lagi stress.. deadline skripsi menunggu.. jadi bisa tambah gila kalo harus beropini yang berat-berat.. hehehe..

    :mrgreen:

  • Maaf, bangun tidur. Komennya pake bahasa Indonesia boleh ya :oops:
    Sudah saya duga. Indonesia iurannya cuma sampe taun ini. Dan emang bener harusnya keuar dari OPEC. kalo ada OPIC bolehlah gabung disitu :mrgreen:
    cuma emang gak habis pikir. ladang minyak di negara kita itu (katanya) masih banyak tapi gak ada inisiatif investasi buat buka kilang baru. oke, jangan jauh2 ke kilang baru.

    tapi… rada2 lost of hope juga ama BUMN yang ngurusin perminyakan di Indonesia ituh. abisnya mereka itu… ah jadi ngegosip. :roll:

    bel, komentar2 cerdas kamu yang di paragraf2 awal itu termentahkan di endingnya. hahahaha. what a chemistry you have to your country! :mrgreen:

  • Calvin:
    Totally agree, “Indonesia as a Rich Country” is indeed only a form of irresponsible illusion. Got that on my previous article “Apakah kita (Indonesia) harus selalu merasa kaya?” I hope that all the series of unfortunate events may lead us to the point where changes could happen.

    :D

    Mya:
    nah justru itu my, apakah elu tidak menyadari komentar-mu sendiri? Cukup penuh dengan analisa bukan? Dan coba lihat 3 komentator pertama di post ini.. Sepertinya stiker “Gua anak HI” sudah cukup terpampang gamblang di jidat mereka bertiga.. Jadi urusan analisisnya gua serahkan saja pada yang bersangkutan.. Tadinya gua mau ngebacot tentang proses fraksionasi minyak bumi, lho.. hahahaha.. gak deng becanda. hehe..

    lagu romantis dengan isu negara? oh please my.. hubungan gua dengan negara tuh romantis bgt.. hahahaha.. apa coba..

    Yuki:
    hahaha.. That line keeps ringing in my mind! “They really have not had much influence within OPEC.” Hehehe..

  • I just read it in BBC this morning, haha, “they had not much influence” :lol:

    Calvin’s comment reminded me of your previous article, Apakah Kita Harus Selalu Merasa Kaya or something like that.

  • eh bel,kalau tulisan lo ini diterusin pake analisa,berati udah HI banget tuh bel.. :lol:
    Memang kepentingan kita sekarang sebagai negara pengimpor sih ya bukan negara pengekspor lagi.
    Tapi gw sih salut buat Indonesia yang berani keluar dari organisasi internasional negara berkembang yang sangat diperhitungkan di dunia.

    Keputusan berani dari sebuah negara berkembang seperti Indonesia yang notabene butuh dukungan ,link dan keistimewaan dari negara anggota OPEC lain.
    Yaa tapi lumayanlah yaa ga usah bayar uang keanggotaan 2 juta dollar setahun :shock: .Moga-moga pemerintah sudah benar2 menimbang baik dan buruknya dan sudah mendapat jaminan dari negara-negara lain soal keamanan minyak dalam negeri.Keputusan tepat mungkin buat saat ini , tapi buat nantinya..hmmmm membaca asumsi-asumsi negatifnya para ahli sii.. yaa mari kita sama-sama berdoa..
    Ayoo Indonesia, kalaupun bisa masuk lagi ,,tempatkan orang dengan kemampuan lobi oke biar kita dapet keistimewaan lebih banyak .Amin

    Oh please bel,,ko lo tega si nyambungin lagu romantis sama isu negara :evil:

  • I think this is very positive news, consindering we’re net importer, and we must pay for… 12 billion dollar/year for OPEC membership. I think it’s time to realize that Indonesia is not rich at all, people here should percept themselves as people living in resource-scarce country.

    I don’w know, sometimes I think the common thoughts “Indonesia = Rich Country” is form of illusionment. The thoughts that Indonesia is an abundant-resource country somehow contribute to shape the people’s work ethic in this country.