» People

Terlahir dengan Modal untuk Bangga

Soekarno Hatta MaluTiga hari menuju perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-63. Bagaimana perasaan Anda? Anda bangga? Ataukah biasa saja? Atau malah malu melihat perayaan kemerdekaan kita diwarnai oleh berbagai kasus korupsi di pemerintahan yang mencuat ke permukaan? Tidak tanggung-tanggung, dari Sabang sampai Merauke, sudah ketahuan berbagai kasus korupsi di berbagai perangkat pemerintahan. Dengan keadaan menyedihkan seperti itu, habiskah alasan kita untuk berbangga akan negara kita?

Saya tertarik untuk berkomentar tentang hasil sebuah survei yang dilakukan oleh Bambang Setiawan/Litbang Kompas yang terdapat dalam Harian Umum Kompas tanggal 10 Agustus 2008. Survei tersebut ditampilkan pada halaman 15 di bagian pojok kanan bawah, untuk lebih tepatnya. Hasil survei tersebut cukup untuk membuat kita semua berpikir.

“Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, apa keburukan Indonesia yang paling membuat Anda merasa malu?”

48% menjawab korupsi dan 10% menjawab kemiskinan serta masalah sosial. Beberapa jawaban lainnya adalah buruknya perekonomian (8,1%), integritas moral seperti malas dan tidak disiplin (6,5%), perilaku elite yang buruk (5,4%), masalah keamanan (4,6%), penegakan hukum yang lemah (3,6%), lain-lain (9,6%), tidak ada (2,5%), dan tidak tahu (1,7%).

“Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, apa keunggulan Indonesia yang paling Anda banggakan?”

29,3% menjawab keragaman etnis, budaya, dan seni sedangkan 27,3% lainnya menjawab kekayaan alam (SDA). Beberapa jawaban lainnya ialah keramahtamahan (3,9%), pariwisata (3,5%), lain-lain (22,4%), tidak ada (7,6%), dan tidak tahu (6,0%).

Berbekal hasil survei tersebut, apakah salah apabila saya menganggap bahwa kita semua terlahir dengan modal yang cukup besar untuk berbangga akan negara kita ini? Bayangkan saja: keragaman etnis, budaya, dan seni. Kita menyadari keberadaan hal tersebut di sekitar kita dan kita pun berbangga karena keberadaannya. Tak perlu berkeringat, tak perlu berpeluh darah, kebanggaan itu telah ada sejak nenek moyang kita. Terlepas dari kita mau berbangga atau tidak, poin kebanggaan itu akan tetap melekat di diri kita sekalipun kita berleha-leha dan bermalas-malasan di kasur setiap hari. Terang saja: keragaman etnis, budaya, dan seni. Ribuan pulau, ratusan suku, dua ratus dua puluh juta penduduk, enam agama, dan lain sebagainya. Katakan saja: sudah bawaan lahir.

Kemudian terlintas beberapa pertanyaan dalam pikiran saya:

“Mengapa kita harus mencoreng kebanggaan turun-temurun yang tak perlu susah-susah kita raih dengan tindakan-tindakan tercela kita?”

Bukankah seharusnya kita memupuk dan memelihara kebanggaan yang sudah kita miliki kemudian terus berusaha menjadi negara yang lebih baik lagi sehingga kita bisa semakin berbangga atas negara kita? Mengapa kita memilih untuk mencoreng kebanggaan yang sudah kita punya – gratis pula – dan malah menutupinya dengan tindakan tercela kita? Korupsi, misalnya.

Apakah manusia Indonesia memiliki sifat koruptor dan diturunkan secara genetik? Apakah manusia Indonesia memang terlahir untuk memiliki tingkat integritas moral yang rendah?

Saya yakin kita semua tahu apa jawaban yang benar. Saya juga yakin kita semua tahu apa yang harus kita lakukan.

Percayalah, tak akan pernah habis alasan bagi kita untuk berbangga akan negeri kita ini. Modal kebanggaan itu sudah melekat dalam diri kita masing-masing; sekali lagi, sudah bawaan lahir. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi kebanggan tersebut dan memutuskan apakah kita rela mencoreng-coreng kebanggaan itu dengan segala tindakan tercela kita. Semoga di masa depan kita tak akan pernah (lagi) berbangga karena keanekaragaman kita sambil pada saat yang sama menutup muka kita karena malu akan kebobrokan kita sendiri. Jangan sampai Soekarno-Hatta dan semua pahlawan-pahlawan kita ikut menutup muka mereka (lagi), entah di manapun mereka berada.

Dirgahayu Indonesiaku.

Ilustrasi diambil dari sini.

Full Story » Comments (25)

Fitna: Pendewasaan Masyarakat Multikultur

Sebenarnya saya berpikir 4 kali sebelum saya memutuskan untuk menulis tentang hal yang amat sensitif ini tapi entah mengapa saya terlalu tergelitik untuk tidak menuliskannya. Saya yakin Anda semua sudah mendengar film Fitna, sebuah film pendek yang dirilis di Internet pada tanggal 27 Maret 2008 oleh sebuah politikus Belanda bernama Geert Wilders. Film fenomenal ini didera berbagai kecaman dari negara-negara mayoritas Islam di seluruh dunia karena dianggap sebagai suatu film yang mendiskreditkan agama Islam. Berhubung saya dilahirkan sebagai seorang manusia yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, tentunya saya langsung mencari tahu kesana kemari apa sebenarnya yang dipaparkan dalam film itu yang sedemikian menjadi masalah besar di seluruh dunia. Tentunya itu semua dimulai dengan menonton film fenomenal itu terlebih dahulu. Oh ya, perlu Anda ketahui, saya adalah seorang Kristen.

Turn my laptop on, connect to the internet, access youtube.com, put “fitna” in the search box, find hundreds of results, pick one, watch the clip, and I was shocked.
Read More →

Full Story » Comments (21)

How do you react to change?

React To ChangeIt’s a simple question. How do you react to change?

Bayangkanlah Anda berada dalam suatu keadaan dimana segala hal-hal di sekitar Anda mulai berubah dan mulai bermunculan berbagai ketidakpastian di sekitar Anda. Mungkin banyak contoh yang bisa Anda bayangkan; katakanlah hal-hal lumrah seperti pindah sekolah karena orang tua yang pindah tempat dinas atau mungkin perubahan rutinitas harian yang cukup fundamental karena berhentinya pembantu di rumah kita misalnya. Atau mungkin hal-hal berbau cinta seperti seseorang yang baru saja jadian dan mulai berpikir akan sekian banyak hal yang akan berubah dengan keberadaan orang baru tersebut; atau seseorang yang baru saja diputuskan pacar dan harus menghadapi dunia yang mega-besar ini dalam kesendirian. Hmm.. bagaimana dengan kasus di tempat kerja? Katakanlah pergantian kepengurusan, deployment, rekruitmen orang baru atau mungkin pemecatan. Atau untuk kasus yang lebih global dan menyangkut orang banyak katakanlah undang-undang atau peraturan baru, kabinet baru, atau mungkin presiden baru.

How do you react to those changes?

Read More →

Full Story » Comments (8)